Wednesday, February 22, 2006

Moskwa-1

SEBUAH DESA KECIL BERNAMA MOSKWA
catatan kecil seorang guru seminggu pertama di Rusia*
Oleh: Marzuki, A.**


“Zdrafstvuite! Dokumen pazhaluista!”
Sapaan perlakuan dingin terlontar dari sosok-sosok berwajah dingin di terminal-2 Seremetyevo. Suhu minus 15 derajat selsius sekejap saja terkalahkan dengan perlakuan dingin seperti ini. Sungguh menakjubkan kedisiplinan pemeriksaan yang menjunjung tinggi kecurigaan. Apalagi namaku didahului dengan Ahmad, sehingga pemeriksaan melekat lebih dari 1 jam membenarkan dugaan Islamophobi yang kukhawatirkan.

“Eta Rossiya! Eta Moskva, Kamerad!”
Terngiang suara sumbang di telinga yang mengingatkanku bahwa negeri yang baru kujejaki ini adalah pusat kedinginan dunia. Pengalaman pertama segera mengiyakan bayangan semua kengerian yang digambarkan oleh orang-orang terdekatku saat sebelum berangkat: “Awas Komunis!”

Sebuah mobil VW Kombi Caravel milik KBRI Moskow bernomor 033-028 mengantar pandanganku melalui jalan yang dipenuhi dengan selimut putih salju. Pohon-pohon Bereozka yang pucat meranggas diam tepekur, pasrah pada alam yang membekukan. Matahari belum ada tanda-tanda menampakkan diri, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Eh, maaf, aku lupa mengubah waktu Indonesia. Moskow di musim dingin 3 jam lebih awal daripada Jakarta, jadi... baru jam 07.00 pagi. Hari ini, hari pertamaku di Rusia, Jumat, 21 Januari 2000.

Tanda-tanda kehidupan mulai tampak ketika Caravel melesat melalui jembatan jalan tol lingkar MKAD (Moskovsky Koltso Avtomobilny Daroga). Jalan tol lingkar 16 jalur yang membatasi kota Administratif Moskow dengan ‘Kabupaten’ Moskow. Jalan tol gratis yang sangat lebar; memutari kota seluas 950 km2.

“Dabro Pozhalovath v Moskve!”
Kami memasuki kota melalui arah Barat Laut. Caravel terus melesat ke arah tenggara menuju pusat kota melalui jalan protokol 12 jalur, Leningradsky Prospekt. Kota sedemikian besar namun mengapa terasa sepi. Tanda-tanda kehidupan hanya lampu-lampu jalan dan hilir mudik mobil Zhiguli, Volga dan Gazel. Orang yang lalu lalang di jalan tidak lebih dari hitungan jari, padahal kami sudah memasuki pusat kota! Ajaib! Kemana gerangan para penghuni gedung-gedung menjulang yang berjajar di kiri kanan jalan? Masihkah terlalu pagi untuk beraktivitas? Padahal hampir pukul 08.00!

Pusat kota ditandai dengan jalan lingkar dalam yang biasa disebut Koltso, alias cincin. Jalan selebar lapangan bola terdiri dari 16 jalur yang disebut sebagai kaltso itu bernama Sadovaya Ulitsa. Daerah pusat atau Tsenter kota merupakan daerah elit dengan segala kelebihannya. Hampir semua gedung yang berdiri di Tsenter memiliki nilai sejarah, terutama gedung yang menjadi cikal bakal kota ini: Kremlin!

Dahulu, moskow adalah sebuah desa kecil yang dipagari pagar kayu sehingga disebut benteng, Kreml. Di luar tembok yang ada hanya kebun, tanah garapan dan hutan bereozka. Sebuah sungai kecil mengalir melalui sisi selatan benteng dan sebuah lapangan kecil di sebelah timur benteng menjadi ajang jual beli musiman saat musim panas. Desa berpagar kayu tersebut terus tumbuh menjadi benteng kokoh bertembok batu. Pada tahun 1147 lahirlah sebuah kota kecil bernama Moskwa. Yuri Dolgoruky, seorang Kniazh(Ksatria)—adalah nama sang pendiri kota itu. Diluar benteng tidak hanya tanah garapan, pemukiman rakyat yang berkembang dan para pedagang pendatang membuat kota meluas hingga lingkar yang sekarang menjadi koltso, Tsenter kota Moskwa.

“Selamat datang di KBRI Moskow! Apa kabar?”
Seruntunan sambutan dan senyum-senyum khas Indonesia menghangatkan kedinginan yang sedari tadi menyelimuti. Perjalanan 1 jam dari Seremetyevo 2 menuju KBRI yang terletak di pusat kota terasa begitu cepat. Semangat menjelajahku telah menerawang ke sudut-sudut kota misterius yang terasa sepi ini mengalahkan kelelahan sepanjang perjalanan.

Gedung KBRI adalah sosok gedung tua berusia hampir 2 abad. Arsitektur zaman Renaissance, terdiri atas 2 gedung utama untuk kantor dan wisma duta, serta beberapa gedung kecil yang difungsikan sebagai garasi, kantin, ruang piket, dan Sekolah Indonesia. Sebuah taman kecil dan lapangan tennis berada di antara gedung utama dan di beranda belakang, melengkapi teritori Indonesia seluas 1 ha. Gedung yang terletak di Novokuznetskaya Ulitsa 12-14 tersebut awalnya milik Aristokrat Rusia. Pasca Revolusi Bolshevik 1917, segera diambil alih penguasa Komunis dan dijadikan Rumah Sakit Anak-Anak. Selanjutnya, saat ditandatangani MOU pembukaan kedutaan 29 September 1954, maka gedung tersebut resmi menjadi perwakilan Indonesia untuk Uni Sovyet.

Aku dan rekanku, Nandang, untuk sementara tinggal di gedung tua itu. Ruang kecil di lantai 4 KBRI telah disulap menjadi kamar tidur sementara kami. Pak Dasep yang mengantar kami begitu baik ikut membawakan barang-barang ke atas. Bahkan ia menunjukkan kami 2 ruang penting di KBRI untuk dapat kami gunakan: Toilet dan Dapur! Spasibo Bolshoi, Tovarish Dasep! Dan hari pertamaku penuh dengan ajang perkenalan dan sowan ke tiap ruang pejabat dan rekan-rekan di KBRI. Suasana Indonesia yang khas segera merebak --ramah dan penuh basa-basi.

“Minya zavut Ahmad. Eta moi dokumen. Ya Indonesiets. Rabotayu v posolstvo”
Sebaris kalimat-kalimat pendek yang perlu kuhafal untuk berjaga-jaga dari militsioner yang kupikir terlalu rajin memeriksa dokumen kami yang bertampang asing. Kekhawatiran akan pendatang haram alias imigran gelap selalu menghantui kota yang pernah menjadi pusat superpower dunia, Uni Sovyet.

Bukan suatu yang mengherankan bila banyak orang yang ingin mengadu nasib di kota Moskwa. Hal ini disebabkan ketimpangan yang amat jauh antara pendapatan perkapita penduduk Moskwa juga Sant Petersburg dengan daerah lainnya di Rusia. Peredaran uang di kedua kota besar tersebut mencapai 80% dari jumlah semua uang yang beredar di Rusia. Kesenjangan sosial demikian kontras terasa tidak usah jauh-jauh, cukup dengan mengunjungi kota-kota satelit Moskwa terdekat semisal Serpukhov, Yachroma, dan sebagainya. Ditambah lagi kondisi negara-negara eks Uni Sovyet yang terus dilanda masalah politik dan krisis ekonomi, memaksa rakyatnya untuk bekerja keras dengan upah sedikit. Sehingga, berimigrasi keluar dari negrinya adalah sebuah keinginan dan impian. Dan... Moskwa adalah pilihan yang paling memungkinkan. Kesempatan untuk memiliki dua kewarganegaraan antara negrinya atau Rusia membuat mereka rela meninggalkan tanah air demi menghidupi keluarga.

“Slovo Boga! Ocen Kholadna!
Jaketku tidak mempan menghadapi dingin menggigit tulang minus 15 C. Padahal saat beli di Sarinah Blok M, sang pedagang bilang ini benar-benar hangat untuk musim dingin. Olala, aku lupa sampaikan kalau di Rusia bukan sekedar dingin tetapi sangat-sangat-sangat dingin!!

Aku rangkapkan pakaian menjadi 4 lapis: kaos dalam lengkap--alias kaos hanoman--, kemeja, sweater, dan Jaket dingin. Perlengkapan anti dingin ditambah dengan syal, sarung tangan, dan kaos kaki lapis 3. Masih juga dingin, Subhanallah!

*Tulisan pertama dari 7 tulisan.
**Guru Sekolah Indonesia Moskow.

3 comments:

Safrina D. Ratnaningrum said...

Brrr...yang baca aja sampai ikut kedinginan. brr..kluthuk kluthuk (*suara gigi beradu)

Galuh_pramiTa said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Galuh_pramiTa said...

pak, kok saya nggak tau tempat2nya yaks?? kapan2 ajakin jalan2 dooonggg :(